Serangan Hamas Mengusir Penjajah Israel, Bukan Aksi Teror

Asap hitam membubung di Kota Gaza, Sabtu (7/10/2023) saat Israel melakukan serangan udara ke kota itu. /AFP/MAHMUD HAMS

Oleh: Heni Purwaningsih

JurnalPost.com – Kawasan Timur Tengah kembali memanas, lantaran pada Sabtu, 7 Oktober kemarin terjadi aksi serangan tak terduga yang dilancarkan oleh para pejuang Hamas demi membebaskan tanah Palestina yang selama ini dirampas oleh penjajah Israel.

Serangan ini termasuk masif dan mendadak bagi entitas Yahudi, mereka tidak pernah menduga sebelumnya. Para Mujahidin berhasil menerobos masuk Gaza setelah 17 tahun terpenjara oleh Zionis Israel dengan senjata, tembok, pagar kawat berlistrik yang sengaja dibuat Israel untuk menghalangi dan memblokade warga Palestina. Serangan dari Hamaspun ditujukan ke multi arah, diantaranya kota Thel Aviv dan Yerusalem, sehingga tidak bisa diantisipasi oleh penjajah Yahudi yang selama ini di bangga-banggakan akan bisa menghalau berbagai serangan rudal, yang di klaim oleh Amerika Serikat sebagai pasukan intelijen terbaik didunia.

Sebagai Aksi Balasan Atas Perampasan Tanah

Sebagai warga negara pasti akan tetap mempertahankan wilayah dan kemerdekaan negaranya dari penjajahan, begitupun yang dilakukan oleh para pejuang Hamas di Palestina. Sebagaimana yang juga telah dilakukan oleh para pahlawan kita dahulu dalam mengusir penjajah dan mempertahnakan wilayah. Dengan begitu tidak ada yang salah dengan aksi serangan dadakan yang dilancarkan oleh para pejuang Hamas ini.

Namun sungguh sangat disayangkan, banyak media yang justru malah memberitakan bahwa apa yang dilakukan para Pejuang Hamas ini merupakan aksi teroris, ekstrimis yang dilakukan oleh kelompok radikal. Justru narasi yang dibangun oleh media-media yang tidak bertanggung jawab ini adalah paradigma penjajah, seperti dahulu Belanda memberi label para pejuang kemerdekaan Indonesia.

Serangan yang dilancarkan Hamas adalah sebagai bentuk respon aksi balasan atas apa yang selama ini telah dilakukan oleh penjajah Yahudi secara bar-bar dan dzolim terhadap umat Islam di negrinya sendiri. Berpuluh-puluh tahun warga Palestina dan Ahlu Syam mereka buat panik dengan teror bom dan meriam setiap saat, kini Allah balikkan keaadaan melalui tangan-tangan para Mujahidin Palestina. Sudah tak terhitung berapa nyawa mereka hilangkan atas aksi brutal para teroris Israel, kebanyakan korban adalah anak-anak.

Baca Juga  Yudabbirul ‘Amra dalam Majelis Rasulullah Gorontalo

Membaca Sejarah

Memang benar, orang-orang Yahudi pernah menetap dan tinggal di Palestina, yang dibawa oleh Nabi Daud as dan Nabi Sulaiman as. Namun tinggalnya orang Israel di bumi Palestina bukan tanpa syarat, mereka boleh menetap dan tinggal selamanya di tanah ini dengan syarat bahwa mereka harus orang-orang yang sholih dan taat pada Nabi mereka. Akan tetapi, mereka malah membangkang para Nabi, mendustakan kitab suci yang dibawa Nabi mereka dan inkar pada agama mereka. Mereka banyak melakukan kemaksiatan dan kemunkaran, sehingga Allah menhukum mereka dengan mendatangkan pasukan Raja Nebukadnezar yang akhirnya orang-orang Yahaudi terusir dari tanah Palestina.

Pada masa Kekhilfahan Umar bin Khatab ra berhasil menaklukan tanah Palestina yang kemudian terjadilah kesepakatan antara Amirul Mukminin Umar bin Khatab ra dengan Pendeta Sophronius yang waktu itu merupakan pimpinan tertinggi umat Nasrani. Kesepakatan tersebut dikenal dengan Perjanjian Umariyah, yang isinya adalah bahwa melarang orang-orang Yahudi untuk memasuki Palestina, tinggal dan menetap juga melewati Palestina.

Dengan demikian, jelaslah bahwa orang-orang Yahudi tidak mempunyai hak sedikitpun atas bumi Palestina, mereka adalah bangsa yang terusir karena dimanapun bangsa Israel ini tinggal pasti akan membuat kekacauan. Kedudukan Israel di Palestina bukanlah sebagai bentuk kembalinya penduduk asli ke tanah miliknya, akan tetapi datang sebagai bangsa kolonial yang menjajah dan merampas kemerdekaan bangsa lain.

Dukungan Inggris Dan Negara-Negara Barat Atas Penjajahan Israel

Pada 16 Mei 1916 terjdilah perjanjian Sykes-Picot antara Inggris dan Prancis, dalam perjanjian ini seara efektif membelah daerah-daerah Arab yang berada dibawah Kekhilafahan Turki Utsmani yang memang dalam kondisi lemah pada waktu itu, selanjutnya dibagi wilayah atas Inggris dan Prancis sehingga daerah-daerah dibawah kendali dan pengaruh Inggris dan Prancis.

Baca Juga  Influencer Rini Shima Tetap Dekat Dengan Keluarga di Jawa Tengah meski Tinggal di Jawa Timur

Disusul kemudian Deklarasi Balfour pada tahun 1917, yang merupakan pernyataan terbuka  yang dikeluarka pemerintahan Inggris atas dukunganya bagi pembentukan sebuah “kediaman nasionla bagi bangsa Yahudi” di Palestina yang juga salah satu daerah didalam wiayah Kekhilafahan Turki Utsmani.

Tidak berhenti sampai disitu, pada tahun 1948 munculah deklarasi berdirinya entitas Yahudi Zionis, mulai sejak saat itu masuklah orang-orang Yahudi secara berbondong-bondong ke Palestina. Mereka mengusir dan menggusur warga Palestina termasuk didalamnya kaum Muslim secara genosida.

Solusi Komperhensif Untuk Konflik Palestina

Setelah menilik pada sejara bangsah Israel dan pendudukan wilayah Palestina atas Israel, maka solusi yang harus ditempuh untuk konflik Palestina ini bukanlah Perundingan pembukaan hubungan Diplomatik apalagi Two State Solution (Pembentukan dua negara). Jika kita masih terjebak dengan solusi ini itu artinya kita ikut melegalkan penjanjahan bangsa Israel di tanah Palestina sehingga semakin melukai perasaan kaum Muslim di Palestina yang telah berjuang samapi titik darah penghabisan demi kembalinya Bumi Palestian ke tangan kaum Muslim.

Solusi hakiki adalah dengan Jihad fi sabilillah, memerangi panjajah Yahudi dengan kekuatan militer. Mengirimkan tentara ke Palestina untuk bertempur melawan penjajah Israel. Namun nampaknya para penguasa negri-negri Muslim terjebak dalam paradigma Nation State yang sengaja diuat oleh negara-negara Barat untuk memecak belah kekuatan kaum Muslim. Sehingga mereka menganggap bahwa pembebasan Palestina bukan lagi menjadi tanggung jawab kaum Muslim diluar Palestina.

Hanya dengan bersatunya kaum Muslim dibawah satu kepemimpinan Islam sajalah penjajah Israel akan bisa dilumpuhkan, mereka akan diusir dari tanah Palestina tanpa tersisa, sehingga Palestina kembali tangan kaum Muslimin.Seperti halnya dahulu pasukan Shalahudin Al Ayyubi membebaskn tanah Palestina dengan Jihad fi sabilillah. Wallahu ‘Alam Bi Shawab

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *