Seksisme & Misogini!! Isu Bias Gender Dalam Serial Netfilx Gadis Kretek

Sumber: HYPEBEAST

JurnalPost.com – Saat ini banyak sutradara dan produser perfilman Indonesia mulai melirik adanya ketimpangan gender antara laki-laki dan perempuan, mulai banyak bermunculan film-film yang mengangkat isu bias gender yang mencerminkan stereotip atau pandangan prasangka terhadap laki-laki atau perempuan. seperti kartini, Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, yuni, dan paling terbaru adalah serial original Netflix gadis kretek.

Pada awal November lalu industri perfilman indonesia dihebohkan dengan munculnya serial Netflix berjudul gadis kretek, kemunculan serial ini diagung-agungkan dikarenakan para pemain yang memerankan karakter di setiap tokohnya tidak kaleng-kaleng. Mulai dari Dian Sastro berperan sebagai Dasiyah, Ario Bayu sebagai Soeraya, Putri Marino sebagai Arum, Arya Saloka sebagai Lebas dan masih banyak aktor dan aktris papan atas lainnya, selain itu juga yang tidak kalah mencengkanya pengambilan sinematografis yang dianggap setara dengan garapan film berbujet fantastis.

Munculnya Serial netflix gadis kretek berlatar belakang tahun 1960 yang memiliki plot cerita mengandung nilai-nilai diskriminasi gender serta kebencian terhadap perempuan dalam urusan pekerjaan dan menganggap laki-laki lebih superior.

Gadis Kretek bercerita tentang Dasiyah atau Jeng yah (Dian Sastrowardoyo) yang bercita-cita ingin menjadi meracik saus serta memiliki tekad yang besar untuk mengembangkan usaha kretek dari hasil racikannya sendiri. Jeng yah merupakan anak pertama dari Idroes (Rukman Rosadi), pemilik usaha kretek lokal di Kota M. Kemampuan Jeng yah dalam membuat saus kretek tidak usah diragukan lagi namun pada tahun 1960 an terdapat mitos budaya yang melarang keras perempuan untuk meracik saus kretek. Dikarenakan budaya patriarki yang sangat kental pada masa itu, keterlibatan perempuan dalam pembuatan kretek hanya sebatas melinting saja.

Baca Juga  VoteNO23Australia viral link twitter

Seksisme
Dikutip dari Wikipedia Seksisme adalah Seksisme adalah prasangka dan diskriminasi yang didasarkan pada gender. Seksisme sering kali muncul karena peran dan stereotip gender, maksudnya adalah adanya penilaian negatif terhadap seseorang karena seseorang tersebut adalah perempuan.
Dalam masyarakat yang menjunjung tinggi prinsip patriarki, sosok laki-laki dianggap lebih baik dibandingkan dengan perempuan. sepanjang jalan cerita gadis kretek dapat terlihat dengan jelas dari berbagai konflik yang dialami oleh Darsiah.

Sosok Jeng yah atau Darsiah diceritakan sebagai sosok yang memiliki mimpi besar sebagai peracik saus kretek, namun dikarenakan Darsiah adalah seorang perempuan maka terdapat diskriminasi gender yang dialami Darsiah, kita bisa melihat dari diskriminasi yang dilakukan oleh laki-laki di sekitar darsian kepada Darsiah karena memiliki ketertarikan di dunia kretek.
Salah satu scene ayah Jeng yah lebih percaya kepada Soraya daripada Jeng yah untuk mengelola pabrik kretek, dan Ayahnya sendiri tidak memberikan kesempatan kepada jengah untuk meracik saus dan mengelola pabrik karena masih menganggap bahwa perempuan seharusnya berada di ranah domestik.

Scene yang lain yaitu walaupun pada akhirnya Darsiah mendapat kesempatan untuk meracik saus kretek namun identitasnya harus disembunyikan karena status jeng ayah sebagai mantan tahanan politik sehingga tidak diberikan kesempatan untuk bekerja. Selain itu, adanya ketimpangan gender dari ranah politik, sosial, dan budaya inilah yang juga turut meniadakan kontribusi perempuan dalam Industri kretek.

Misogini
Sedangkan untuk misogini, dikutip dari Wikipedia Misogini adalah kebencian atau tidak suka terhadap wanita atau anak perempuan. Misogini dapat diwujudkan dalam berbagai cara, termasuk diskriminasi seksual, fitnah perempuan, kekerasan terhadap perempuan, dan objektifikasi seksual perempuan.

Salah satu scene yang menunjukan misogini kepada Darsiah ialah saat tokoh Dibyo (Whani Darmawan), bekerja sebagai peracik saus satu-satunya di pabrik kretek merdeka milik keluarga Jeng yah. Suatu ketika jang yah penah dipergoki oleh Dibyo kala masuk tanpa izin ke ruang saus. Dibyo sangat benci dan marah besar kepada Jeng yah karena ia masuk ke ruangan tempat meraciksaus kretek.

Baca Juga  Memandang Manusia Lain Secara Positif

Dibyo dengan gamblangya memaki Jeng yah di hadapan ayahnya sendiri dan Soeraya karena memasuki ruang saus kretek. Dibyo menyatakan bahwa keberadaan perempuan di dalam ruangannya akan merusak cita rasa saus dan rasanya akan menjadi pahit. Selanjutnya menyuruh Soeraya untuk membersihkan ruang saus untuk menghilangkan bau-bau perempuan
Hal tersebut menunjukkan bahwa suatu hal fatal bila seorang perempuan itu masuk di ruang kerja yang didalam ruang kerja tersebut terdapat pekerjaan yang seharusnya hanya dikerjakan seorang laki-laki. Dan pada naskah tersebut terdapat perkataan seperti tersirat kata membenci dan meremehkan perempuan. Serta seolah-olah tidak ingin urusan itu ada campur tangan Perempuan.

Itulah beberapa scene yang menunjukan adanya bias gender dalam bentuk seksisme dan misogini dalam serial gadis kretek. serial ini sebaiknya jangan dilewatkan, karena dapat menjadi hiburan serta pembelajaran untuk terus menyuarakan kesetaraan gender antara pria dan wanita.

Penulis: Risma Sophia
UNTAG surabaya

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *