Sains dan Filsafat Menurut Chomsky

Oleh Muhammad Thaufan Arifuddin
Pengamat Media, Korupsi, Demokrasi, dan Budaya Lokal. Dosen Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Andalas

JurnalPost.com – Noam Chomsky, seorang ilmuwan dan filsuf terkemuka, telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam memahami hubungan antara sains dan filsafat. Artikel kecil ini akan membahas pandangan Chomsky terkait sains, filsafat, serta kontribusinya yang unik terhadap kedua bidang tersebut.

Menurut Chomsky, sains dan filsafat memiliki tujuan yang hampir sama, yakni memahami fenomena pikiran dan bahasa. Ia menolak pemisahan kedua disiplin ini, menggambarkan pandangan ini sebagai refleksi pemikiran para filsuf pada peralihan abad kesembilan belas seperti Descartes, Leibniz, Spinoza, Berkeley, Hume, dan Kant. Chomsky memandang bahwa sains dan filsafat seharusnya tidak terpisah, melainkan saling melengkapi.

Chomsky memperkenalkan konsep naturalisme metodologis, yaitu pandangan bahwa sains harus bersifat empiris dan tidak terbatas oleh kategori-kategori diskriminatif. Ia menghargai naturalisme metodologis sebagai kerangka kerja untuk menyelidiki fenomena. Sebaliknya, Chomsky menolak naturalisme metafisik, menyatakan bahwa pemikiran seseorang tidak boleh dibatasi oleh pemahaman a priori tentang dunia.

Dalam konteks bahasa, Chomsky melihat bahasa sebagai fenomena yang terkait dengan struktur fisik dalam perkembangan otak manusia. Pandangannya mengenai bahasa tidak memihak pada konsep bahasa sebagai entitas sosial, melainkan menitikberatkan pada aspek kemampuan linguistik manusia yang memungkinkan pencocokan suara dengan makna dalam rentang tak terbatas.

Chomsky membawa kontribusi uniknya dengan menekankan sains sebagai pendekatan yang tidak terbatas oleh kategori-kategori awal. Pendekatannya terhadap linguistik generatif menyoroti bahwa teori-teori sains harus dilihat sebagai alat untuk menyederhanakan penjelasan dan mengatasi kompleksitas pemahaman intuitif kita.

Pandangan Noam Chomsky terhadap hubungan antara sains dan filsafat, khususnya dalam konteks bahasa, membuka jalan untuk pemikiran yang lebih luas dan menyeluruh. Kontribusinya yang unik, terutama dalam menolak batasan kategori-kategori a priori, membawa pengaruh yang signifikan dalam memahami dan menjelaskan fenomena kompleks dalam dunia sains dan filsafat modern (Collins, 2008).

Baca Juga  Bangun Mimpi melalui Pramuka - Medcom.id

Alhasil, filsafat bahasa Chomsky telah membawanya menjadi menjadi ilmuwan sekaligus kritikus di bidang linguistik, kebijakan politik luar negeri Amerika dan propaganda media global. Pemikiran Chomsky selalu menarik dipelajari lebih jauh.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *