Perlindungan Data Pribadi Dari Kejahatan Cyber

JurnalPost.com– Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kementerian Kominfo) bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah menyelenggarakan seminar online yakni Ngobrol Bareng Legislator dengan mengusung tema: “PERLINDUNGAN DATA PRIBADI DARI KEJAHATAN CYBER”. Dalam seminar Ngobrol Bareng Legislator ini, terdapat tiga narasumber yang berkompeten pada bidangnya, yaitu Bapak Dr. H. Jazuli Juwaini, MA. yang saat ini menjabat sebagai Anggota Komisi I DPR RI. Narasumber kedua Bapak R. Wijaya Kusumawardhana, ST., MMIB. selaku Staf ahli Menteri bidang Ekonomi, Sosial, dan Budaya dan narasumber terakhir yakni Bapak Anis Fuad selaku Dosen FISIP Untirta. Seminar diselenggarakan pada hari Kamis, 08 Februari 2024 melalui platform zoom meeting.

Seminar Ngobrol Bareng Legislator ini merupakan acara yang diinisiasi dan didukung oleh Kementerian Kominfo, yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, dengan memiliki beberapa tujuan, diantaranya yakni untuk mendorong masyarakat agar mengoptimalkan pemanfaatan internet sebagai sarana edukasi dan bisnis, memberdayakan masyarakat agar dapat memilah dan memilih informasi yang dibutuhkan dan bermanfaat, memberikan informasi yang lengkap kepada masyarakat terkait pembangunan Infrastruktur TIK yang dilakukan oleh Pemerintah khususnya oleh Ditjen APTIKA, serta mewujudkan jaringan informasi serta media komunikasi dua arah antara masyarakat dengan masyarakat maupun dengan pihak lainnya. Seminar ini terdiri dari beberapa sesi, yaitu sesi pembukaan, pemaparan materi, sesi tanya jawab, dan sesi penutup.

Sesi pemaparan diawali oleh pengantar serta pembukaan yang disampaikan oleh Bapak Jazuli Juwaini. Dalam pemaparannya, ia memaparkan terlebihdahulu tentang era globalisasi dan digital. Menurutnya, dunia dewasa ini cepat berubah dan berkembang begitu cepat, bahkan ia menjelaskan bahwa dunia ini tidak dapat dimaknai sebagai satu desa (one village), tapi sudah seperto satu rumah, bahkan satu kamar. Menurutnya sekarang ini dunia sudah ada dalam genggaman. Menurutnya, yang menyebabkan semua itu bisa terjadi dikarenakan adanya teknologi informasi sebagaimana yang dirasakan sekarang ini. Berangkat dari itu, bapak Jazuli menganggap diperlukan adanya kecakapan digital, yang mana itu berarti cerdas dalam menggunakan dan memanfaatkan teknologi informasi. Dalam artian teknologi informasi jangan hanya digunakan untuk hiburan saja, tapi juga digunakan untuk belajar, membangun networking, kreatifitas, dan produktifitas untuk menciptakan karya.

Selain itu, bapak Jazuli Juwaini mengatakan bahwa dalam memasuki era digital seperti sekarang ini, perlindungan data diri pribadi sudah harus menjadi concern bersama. Karena era ini merupakan eranya data, dimana semua fitur ataupun platform digital memuat enkripsi data. Yang mana ini bisa dimaknai data sekarang ini bisa dimaknai sebagai komoditas yang mahal. Banyak kejahatan-kejahatan yang dilakukan di era digital yang disebabkan karena lalainya perlindungan data, diantaranya adalah hack sosial media, membajak nomor HP, membobol perangkat, menyikat habis saldo rekening, kartu kredit, dan lain-lain. Bapak Jazuli Juwaini mengatakan bahwa negara sudah memiliki perangkat regulasi untuk mengatur perlindungan data pribadi, diantaranya: UU Nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik; UU nomor 27 tahun 2022 tentang perlindungan data pribadi; dan UU nomor 1 tahun 2023 tentang kitab undang-undang hukum pidana. Namun, disamping itu masyarakat juga harus cermat dan teliti untuk menjaga data diri pribadi di dunia maya, salah satunya adalah dengan tidak sembarangan membuka data diri pribadi di sosial media, jangan asal klik link yang tidak jelas, mengurangi untuk connect di wifi umum, dan lain-lain.

Baca Juga  Melejitnya Membaca Buku Elektronik di Kalangan Mahasiswa

Pemaparan berikutnya disampaikan oleh bapak R Wijaya Kusumawardhana selaku Staf Ahli Menteri Bidang Sosial, Ekonomi dan Budaya. Dalam paparannya, bapak Wijaya mengatakan bahwa setidaknya ada 3 (tiga) aspek yang harus dipenuhi pemerintah dalam menjaga keamanan informasi dan literasi digital, yakni: (1) Confidetiality, adalah aspek yang menjamin kerahasiaan data atau informasi, guna memastikan informasi hanya dapat diakses oleh orang yang berwenang; (2) Integrity, yakni aspek yang menjamin akurasi dan keutuhan informasi serta menjaga informasi dari kerusakan; (3) availability, yang mana aspek ini menjamin bahwa data tersedia saat dibutuhkan, dan berhak mengakses informasi kapanpun. Disamping itu, guna menghadapi dunia digital, diperlukan adanya literasi digital, agar manfaat dari teknologi informasi semakin dirasakan manfaatnya. Bapak Wijaya mengatakan hal-hal yang harus dibangun untuk mengimplementasikan literasi digital diantaranya adalah kecakapan digital, keamanan digital, etika digital, dan budaya digital. Bapak Wijaya Kusumawardhana mengatakan bahwa teknologi sekarang ini sudah benar-benar dalam di kehidupan sehari-hari, contoh yang paling dekat adalah sosial media. Di samping itu, bapak Wijaya juga memaparkan contoh teknologi digital yang bersinggungan langsung dengan keamanan siber, yakni Video Surveillance as a Service (VSaaS). Teknologi tersebut memungkinkan kita untuk mengotomitisasi proses review dan analisis lapangan yang prinsipnya real time. Hal ini bermanfaat untuk meningkatkan efektifitas analisis dengan data storage berkapasitas tinggi dari berbagai sector, salah satunya sektor trasnportasi dan keamanan publik.

Narasumber terakhir adalah bapak Anis Fuad, M.Si. untuk masuk kedalam sesi pemaparannya, ia pertama-tama membuka dengan mendeskripsikan tentang kejahatan siber. Kejahatan siber atau cybercrime adalah tindak kejahatan yang memanfaatkan teknologi komputer dan jaringan internet untuk melakukan peretasan, pencurian data, penipuan, dan lain-lain. Disamping itu, bapak Anis juga mengemukakan macam-macam dari kejahatan siber, yang menurutnya, paling sering terjadi dalam konteks masyarakat Indonesia adalah email phising. Pada dasarnya phising adalah upaya untuk mendapatkan informasi penting dan rahasia seperti username, password, PIN, dan sebagainya dengan tujuan untuk mengambil keuntungan sendiri. Bapak Anis menjelaskan bahwa email phising biasanya dilakukan mengatasnamakan instansi terpercaya seperti bank dan mengirimkan link, yang itu merupakan phising. Disamping itu, bapak Anis juga mengatakan bahwa injeksi virus, malware dan ransomware merupakan kejahatan siber yang sering terjadi juga dalam konteks Indonesia. Malware dapat memiliki berbagai tujuan, bisa untuk mengamati data-data yang diinputkan pada web tertentu, melumpuhkan perangkat atau menyadap percakapan yang dilakukan via internet dan masih banyak lagi. Sedangkan Malware Ransomware dilakukan dengan tujuan untuk memeras targetnya. Untuk menghindarinya, Bapak Anis menghimbau untuk tidak mendownload, menginstall atau membuka file / aplikasi dari sumber yang tidak terpercaya pada email atau website yang mencurigakan. Berikutnya bapak Anis juga mengatakan bahwa pencurian data juga marak terjadi. Pencurian data diri merupakan salah satu tindak kejahatan yang serius dan perlu untuk diwaspadai. Pencurian data biasanya dilakukan dengan menggunakan teknik phising untuk mengumpulkan data seseorang. Selain itu, apabila  sembarangan mengupload data pribadi seperti kartu identitas (KTP / SIM) dan data sensitif lainnya pada website yang tidak jelas kredibilitasnya, maka besar kemungkinan data bisa dicuri dan disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, penting untuk berhati-hati dalam melakukan perlindungan data diri pribadi ini.

Baca Juga  5SOS: Dari Idola Youtube Menjadi Ikon Pop Rock

Bapak Anis Fuad memberikan klasifikasi data agar masyarakat bisa berhati-hati serta memilah mana informasi pribadi yang boleh disebarluaskan, dan mana informasi pribadi yang harus di keep. Klasifikasinya ada data yang bersifat umum dan data yang bersifat khusus. Data yang bersifat umum mencangkup nama lengkap, jenis kelamin, kewarganegaraan, agama, status perkawinan dan lain-lain yang sifatnya umum. Adapun data diri yang bersifat khusus diantaranya data serta informasi kesehatan, data biometric, data genetika, catatan kejahatan, data anak, data keuangan pribadi, dan lain-lain.

Seluruh peserta terlihat begitu kondusif dan juga aktif dalam menyimak materi yang di paparkan oleh para narasumber, Setelah pemaparan materi dari ketiga narasumber, moderator mamfasilitasi untuk sesi tanya jawab. Begitu banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh para peserta kepada para narasumber.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *