Pelayanan Prima Dan Kultur Sekolah

JurnalPost.com – Sekolah memiliki peran penting dalam memberikan kepuasan kepada orang tua murid sebagai pengguna layanan pendidikan. Kepala sekolah, guru, dan tata usaha sekolah adalah orang-orang yang paling berkepentingan dengan orang tua peserta didik tentang bagaimana kegiatan pendidikan dan pembelajaran mereka berjalan. Untuk memastikan bahwa orang tua siswa puas dengan layanan pendidikan yang diberikan sekolah, semua bagian sumber daya manusia (SDM) tersebut harus mampu memberikan layanan terbaik. Kultur sekolah sangat penting untuk membantu siswa menjadi orang yang optimistis, berani, dan kooperatif.

Pengertian Pelayanan Prima (Excellent Service)

Pelayanan prima dalam dunia pendidikan sangat diperlukan karena orang tua dan masyarakat selalu menginginkan agar seorang anak mendapatkan pendidikan yang terbaik dan mendapatkan pelayanan prima.

Prasetyawati dalam Puspitasari (2019) pelayanan prima adalah upaya maksimal terbaik yang diberikan sehingga dapat memenuhi kebutuhan sesuai keinginan pengguna jasa.

Sedangkan Danang dalam Sastradiharja (2019) pelayanan prima merupakan suatu pelayanan yang terbaik dalam memenuhi harapan dan kebutuhan pelanggan.

Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pelayanan prima adalah suatu pelayanan yang memenuhi standar kualitas artinya sesuai harapan dan kepuasan pelanggan, orang tua dan masyarakat.

Tujuan Pelayanan Prima

Tujuan utama dari layanan prima adalah memberikan layanan yang dapat memenuhi dan memuaskan pelanggan atau masyarakat serta memberikan fokus pelayanan kepada pelanggan. Layanan yang baik nantinya akan bermanfaat bagi upaya peningkatan kualitas layanan lembaga kepada masyarakat sebagai pelanggan dan sebagai acuan pengembangan penyusunan standar layanan.

Konsep Pelayanan Prima

Konsep pelayanan prima seindiri minimal didasari deingan konsep tiga A yaitu; attitudi, attention, dan action. Namun sejatinya, konsep yang baik sebenarnya didasari dengan 7A + S. Konseip 7A + S diyakini menjadi penerapan konseip yang lengkap dimana tujuan dan impleimeintasi pelayanan prima dapat tercapai dengan baik.

Tujuh konsep pelayanan prima jika implementasikan di sekolah sebagai berikut:

  1. Attitude (Sikap), ketika bertemu dengan orang tua murid, harus bersikap ramah, penuh perhatian, sopan, berpikir sehat, dan positif, dan membuatnya nyaman bagi orang tua murid.
  2. Attention (Perhatian), bahwa ketika mereka memberikan layanan atau layanan kepada orang tua murid, kepala sekoilah dan tata usaha sekolah harus memperhatikan dan mempertimbangkan keinginan dan pertanyaan orang tua murid.
  3. Action (Tindakan), berbagai tindakan nyata yang harus dilakukan untuk membantu orang tua murid. Ini termasuk menyiapkan jadwal pelajaran, mengatur tata tertib sekoilah, seragam sekoilah, dan buku paket pelajaran disiapkan secara rutin dan tepat waktu.
  4. Ability (Kemampuan), pelayan orang tua murid harus memiliki kemampuan (ability) di era yang semakin berkembang. Artinya, pelayan orang tua murid harus dapat melayani mereka dengan sebaik mungkin, seperti koimunikasi, dan menggunakan teknologi (seperti Microsoft Excel, software transaksi, dan jujur).
  5. Appearance (Penampilan), jika oirang tua siswa ingin menggunakan layanan konsultasi guru untuk membantu kemajuan pendidikan anak mereka, guru yang melayani harus berpenampilan selayaknya seorang guru, karena penampilan sangat memengaruhi pelayanan prima.
  6. Accountability (Tanggung Jawab), sebagai pelayan orang tua murid, kepala sekolah, guru, dan tata usaha sekoiah harus bertanggung jawab atas pelayanan yang mereka berikan.
  7. Affirmation (Penegasan), sebagai pelayan, sekolah harus mampu memenuhi harapan orang tua murid dan kepala sekolah. Guru dan tata usaha sekolah harus berpikir positif dan menegaskan pelayanan pada hal-hal yang positif, sehingga sekoilah dapat menghilangkan hal-hal yang lebih emosional dan profesional ketika menjalankan sebuah pelayan dan melayani orang tua murid.
  8. Sympathy (Simpati), terkadang sudah secara profesional melakukan pelayanan prima namun karena kurangnya simpati yang dimiliki, proses pelayanan pun tidak berjalan dengan baik. Simpati adalah sikap dimana bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain.
Baca Juga  Pelatihan Pemanfaatan Teknologi pada UMKM Kedai Blonjor Depok

Pengertian Kultur Sekolah

Kultur sekolah akan menjadi petunjuk bagaimana warga sekolah seharusnya bertindak dan berperilaku. Setiap sekolah mempunyai kultur tersendiri yang berbeda dengan kultur sekolah lainnya.

Ngalu (2019), Kultur sekolah didefinisikan sebagai serangkaian nilai, norma, aturan moral, keyakinan, dan kebiasaan, yang telah membentuk perilaku dan hubungan-hubungan yang terjadi di dalam sekolah yang menjadi pengikat kuat kebersamaan sebagai warga satu komunitas pendidikan. Kultur sekolah ini biasanya diwariskan dari generasi ke generasi.

Sedangkan Sobri (2019), Kultur sekolah adalah bentuk kesepakatan yang digunakan untuk hidup bersama dan digunakan untuk memecahkan masalah dan masalah yang dihadapi sekolah dengan tujuan menghasilkan lulusan yang cerdas dan berkarakter yang baik.

Dapat disimpulkan bahwa kultur sekolah merupakan suasana hidup seluruh elemen sekolah dan mencerminkan kesamaan gagasan, nilai, dan keyakinan. Suasana kehidupan itu membentuk identitas sekolah secara khas.

Tujuan Kultur Sekolah

Tujuan kultur sekolah adalah: (1) untuk mencapai hasil belajar siswa; (2) meningkatkan kepuasan kerja; (3) mengakui produktivitas tenaga kerja; (4) tindakan warga sekolah yang terarah untuk meningkatkan mutu proses dan hasil belajar siswa; (5) menciptakan kerjasama tim warga sekolah yang kompak; (6) mengecualikan budaya global yang tidak sesuai dengan budaya lokal sekolah; (7) meningkatkan keterlibatan dan motivasi warga sekolah dan orang tua siswa; (8) terwujudnya sekolah efektif.

Fungsi Kultur Sekolah

Kultur sekolah memegang peranan penting dalam peningkatan mutu karena memiliki empat fungsi, yaitu: Pertama, kultur sekolah meningkatkan perhatian dan perilaku sehari-hari warga sekolah terhadap apa yang penting dan bernilai bagi sekolah. Kedua, kultur sekolah membangun komitmen seluruh warga sekolah untuk melakukan identifikasi diri dengan nilai-nilai, norma-norma, dan kebiasaan tertentu di sekolah. Ketiga, kultur sekolah juga memerkuat dan memperjelas motivasi dalam diri setiap warga sekolah. Keempat, kultur sekolah akan memertinggi tingkat efektivitas dan produktivitas.

Baca Juga  Peran Manajemen Risiko bagi Perusahaan Startup Indonesia

Daftar Pustaka

Ngalu, R. (2019). Pendidikan karakter melalui pengembangan kultur sekolah. Jurnal Lonto Leok Pendidikan Anak Usia Dini, 2(1), 84-94.

Puspitasari, F. F. (2019). Implementasi pelayanan prima sebagai upaya meningkatkan marketing sekolah. J-MPI (Jurnal Manajemen Pendidikan Islam), 4(1).

Sastradiharja, E. J., & Kurniasari, D. (2022). Implementasi Excellent Service di Sekolah dalam Meningkatkan Kepuasan Orang Tua Murid Sebagai Pelanggan Jasa Pendidikan di Era Pandemi Covid 19 (Studi Empirik Kualitatif di SMP Al Azhar Syifa Budi Cibinong Bogor. Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, 11(01), 455-470.

Sobri, M., Nursaptini, N., Widodo, A., & Sutisna, D. (2019). Pembentukan karakter disiplin siswa melalui kultur sekolah. Harmoni Sosial: Jurnal Pendidikan IPS, 6(1), 61-71.

Penulis:

  1. Ahmad Danil Pamungkas
  2. Astri Oktaria Putri
  3. Rahmi Syafariah Efendi
  4. Lukman Nulhakim
  5. Firdaus

Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *