Mengurangi Resiko Bencana, Santri Al-Qoyim Lakukan Latihan Kebencanaan

Malang, JurnalPost.com – Salah satu bentuk tanggung jawab lembaga pendidikan terhadap peserta didik adalah pemenuhan faktor keamanan dan kenyamanan disamping faktor-faktor lainnya. Hal ini yang mendorong pengasuh Pondok Pesantren Al-Qoyim melakukan pelatihan penanggulangan bencana dilingkungan Pesantrennya.

Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Qoyim Muhammad Ali Sobirin menjelaskan bahwa pelatihan tentang kebencanaan ini dilakukan karena melihat seringnya terjadi bencana di Indonesia secara umum dan belum banyak Ponpes yang memberikan materi pengajaran tentang bencana kepada santrinya, padahal pelajaran ini sangat penting dan sangat dibutuhkan.
Untuk bisa melaksanakan pelatihan kebencanaan ini pihaknya bekerjasama dengan Lembaga Relawan yang ada di wilayah Kec Kasembon, Kab Malang dimana lokasi Ponpesnya berada.

“Alhamdulillah kami kenal baik dengan relawan dari Community Of Rapid Response Emergency (CORRE Indonesia) dan Palang Merah Indonesia (PMI) yang bersedia membantu kami” ujar Muhammad Ali Sobirin yang bisa dipanggil Abah Ali.

“Kegiatan pelatihan ini kami laksanakan selama 2 (dua) hari, meliputi teori, praktek dan simulasi. Dan wajib diikuti oleh semua santri baik putra maupun putri serta semua pengajar (ustad)” tambahnya.

Kegiatan pelatihan sudah dilakukan pada Jumat-Sabtu (12-13/1/2024) atau sekitar 2 (dua) minggu yang lalu. Saat awak media berkunjung ke ponpes pada Sabtu (27/1/2024) sedang berlangsung evaluasi kegiatan dipandu oleh Lukman Hafid (relawan PMI Kab Malang) dan Dwi (relawan CORRE Indonesia). Nampak semua santri dan pengajar antusias mengikuti jalannya kegiatan, hal ini terlihat dari banyaknya pertanyaan yang terlontar dari mereka.

Perlu kita ketahui bersama bahwa untuk program pengurangan resiko bencana di dunia pendidikan, pemerintah sudah punya program yang namanya Satuan Pendidikan Aman Bencana disingkat SPAB. Namun belum semua lembaga pendidikan menjalankan program tersebut. Menurut keterangan yang berhasil dihimpun awak media, penyebab tidak berjalannya program ini adalah kurangnya kesadaran lembaga pendidikan tentang pentingnya program tersebut dijalankan sekolah/madrasah/ponpesnya. Yang lebih parah lagi ada beberapa oknum pendidik yang berpendapat bahwa SPAB tidak perlu dilakukan karena diwilayahnya tidak pernah terjadi bencana. Disamping itu ada faktor klasik yaitu tidak ada biaya untuk program tersebut.

Baca Juga  Ricco Survival Yubaidi Raih Gelar Doktor Ilmu Hukum dari Universiti Kebangsaan Malaysia

Hal ini dibenarnya oleh Dwi salah satu relawan kemanusiaan yang sudah beberapa kali memfasilitasi program SPAB disekolah-sekolah terutama dilokasi yang sedang terjadi bencana di fase Pasca Bencana. Dwi yang sempat kami temui disela-sela pelatihan di Ponpes Al-Qoyim Kasembon mengatakan, pihak sekolah biasanya mengeluh soal biaya pelaksanaan program.

“Kami sering memfasilitasi SPAB tanpa meminta biaya, namun kendalanya adalah pada biaya untuk membenahi infrastruktur bangunan dan fasilitas jika tidak sesuai dengan standart keselamatan” ujarnya. “Hal ini yang sering menjadi kendala, salah satu contohnya misalnya tentang pintu ruang kelas. Menurut standar keselamatan pintu harus model kupu-kupu dan membukanya ke arah luar, sehingga jika terjadi kondisi darurat, siswa yang berada didalam ruang dengan mudah membuka pintu hanya dengan mendorong dari dalam” tambah Dwi. “Dan kenyataannnya banyak sekolah yang pintu ruang kelasnya model satu pintu dan membuka kearah dalam, sehingga perlu biaya untuk merubahnya” tambahnya lagi.

Lantas apakah kita harus menunggu ada biaya untuk bisa melakukan ini, atau apakah kita harus menunggu terjadi bencana dan memakan korban baru kita berbuat, tentu tidak. Menurut Dwi saat ini sudah banyak relawan yang peduli dengan hal ini, mereka mulai mengedukasi sekolah/madrasah/ponpes tentang kebencaan dan penanggulangannya serta upaya pengurangan resikonya. Walaupun belum sesuai dengan standar SPAB dari Dinas Pendidikan namun setidaknya sudah berupaya mengedukasi guru(ustad) dan siswa(santri) sehingga jika terjadi bencana atau kondisi darurat lainnya, siswa dan guru sudah siap, dengan begitu harapannya bisa mengurangi jumlah korban yang jatuh dan bisa melakukan penanganan mandiri sebelum datang bantuan dari luar. (DD)

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *