Krisis Lingkungan Dan Pembangunan | Jurnalpost

Oleh: AlKautsar Holzian Akbar

JurnalPost.com – Krisis lingkungan menjadi masalah yang sering dibahas akhir-akhir ini. Para pelajar, baik itu mahasiswa ataupun sarjana, mulai resah akan kualitas lingkungan hidup mereka. Keresahan itu didasari akan banyak faktor, seperti perubahan iklim, pemanasan global, polusi, kekeringan, banjir dll.

Salah satu gerakan yang aktif menggelar diskusi lingkungan hidup adalah Greenpeace. Greenpeace merupakan komunitas pergerakan internasional yang bertekad mewujudkan dunia yang lebih hijau dan damai. Komunitas ini kerap kali merespon faktor krisis lingkungan yang sedang menjadi keresahan. Greenpeace percaya bahwa faktor krisis iklim yang berkepanjangan harus direspon dengan gagasan dan ide setiap orang.

Faktor krisis iklim tidak hanya berupa isu belaka, akan tetapi efeknya benar-benar dirasakan oleh banyak orang. Seperti panas ekstrem yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia, Yogya misalnya, di mana suhu pada siang hari bisa mencapai suhu maksimal 38 derajat celcius. Menurut deputi bidang metereologi BMKG Guswanto, wilayah Jawa hingga Nusa tenggara didominasi cuaca cerah dan minimnya pertumbuhan awan pada siang hari.

Dampak perubahan iklim yang ekstrem dan tak berkesudahan, menarik para pelajar menggelar beberapa diskusi tentang lingkungan. Seperti diskusi Kebakaran Hutan dan Lahan di Pontianak 13 Septenber 2023. Diskusi tersebut dihadiri oleh seluruh badan eksekutif mahasiswa se-kalimantan barat.

Diskusi-diskusi lingkungan juga diwarnai berbagai asumsi, ada yang menduga bahwa perubahan iklim tersebut dikarenakan gaya hidup masyarakat yang tidak ramah lingkungan. Seperti pengguna kendaraan pribadi yang terus meningkat setiap generasi dan semakin minimnya kendaraan umum, atau ketergantungan akan plastik sekali pakai dan sebagainya.

Di sisi lain, ada juga diskusi yang mengaitkan masalah krisis iklim dengan proyek-proyek pengusaha. Di mana setiap ada pembukaan lahan untuk proyek, pasti meninggalkan kerusakan terhadap lingkungan hidup, dan berdampak pada keberlangsungan masyarakat.

Akar masalah yang paling sering muncul pada wacana diskusi lingkungan ada 2 yaitu; “Gaya hidup” dan “Pembangunan”. Untuk masalah yang pertama seperti yang disinggung di atas tentang penggunaan kendaraan pribadi yang terus meningkat, muncul wacana yang menyarankan untuk menggunakan kendaraan yang lebih ramah lingkungan seperti kendaraan listrik.

Opini yang menekankan perubahan gaya hidup menuai banyak kritik. jika kendaraan listrik digunakan secara masal itu akan menuntut peningkatan pasokan sumber energi listrik seperti batu bara. Di mana pembangkitan energi listrik dari batu bara juga meninggalkan jejak kerusakan pada alam, baik itu waktu proses pertambangan atau limbah yang dihasilkan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Narasi kedua menyatakan; bahwa pembangunan di Indonesia Tidak mempertimbangkan dampak yang akan terjadi terhadap lingkungan. Pembangunan diakukan dengan mengalih fungsi lahan dan deforestasi yang hanya mempertimbangkan pendapatan dari hasil produksi, dan tidak memperhatikan kerugian yang dialami masyarakat setempat akibat alam yang rusak.

Seperti Pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) di Kulonprogo. Pembangunan ini berdampak pada penggusuran sebagian lahan yang akan digunakan untuk kepentingan pembangunan Bandara tersebut. sehingga sangat berpengaruh terhadap pendapatan kepala keluarga di desa Glagah yang notabene adalah petani.

Jika diperhatikan dengan cermat, antara “Gaya hidup” dan “Pembangunan” memiliki keterhubungan. Hubungan itu dapat dicermati dari pembangunan yang bisa mengubah gaya hidup, dan gaya hidup yang diciptakan oleh pembangunan, dapat dijadikan dasar legitimasi terhadap pembangunan.

Pada satu sisi, pembangunan akan meningkatkan produksi komoditas tertentu. Setelah komoditas tersebut didistribusikan kepada masyarakat, terjadi perubahan pola konsumsi masyarakat yang akan melekat pada gaya hidup mereka. Gas LPG misalnya, Perkenalan LPG dimulai oleh PERTAMINA pada tahun 1968. Tujuan Pertamina memasarkan LPG adalah untuk meningkatkan pemanfaatan hasil produksi minyak bumi. Kemudian secara bertahap pola konsumsi masyarakat berubah, dari yang tadinya menggunakan minyak tanah menjadi Gas.

Sama halnya dalam kasus plastik yang awal mulanya tidak dikenal oleh masyarakat kemudian menjadi kebutuhan pokok. industri plastik banyak didirikan perusahaan pada tahun 1953. Industri-industri ini memproduksi barang-barang konsumsi untuk keperluan sehari-hari dan mulai menggantikan konsumsi kertas. Plastik menawarkan kemudahan yang lebih efisien ketimbang kertas, Sehingga plastik ramai digunakan oleh masyarakat. Tetapi penggunaan barang plastik yang berlebihan dan tidak terkontrol menghadirkan masalah terhadap lingkungan.

Belum lagi limbah yang dihasilkan oleh pabrik. Ketika permintaan atas produksi barang semakin meningkat, otomatis pabrik akan bekerja lebih agresif. Hal ini membuat limbah yang dihasilkan pada proses produksi tidak terkontrol.

Tidak hanya itu, pembangunan juga mengubah pola mata pencaharian hidup masyarakat. Alam yang rusak akibat penggusuran lahan atau pembuangan limbah, telah mengganggu sumber mata pencaharian hidup masyarakat tertentu seperti petani dan nelayan.

Dari hubungan antara pembangunan dan perubahan gaya hidup, diskusi para pelajar banyak memfokuskan perhatian mereka terhadap efek Domino yang ditimbulkan oleh pembangunan. Selain dalam prosesnya yang merusak alam dan mencemari lingkungan hidup, pembangunan dapat merubah pola konsumsi masyarakat. Jika hanya memberikan perhatian kepada gaya hidup alternatif tanpa memikirkan efeknya dalam jangka panjang, hal yang sama akan terulang.

Maksud dari gaya hidup alternatif adalah tawaran untuk menggunakan komoditas baru yang dianggap lebih efisien. Tanpa disadari hal itu akan menimbulkan masalah baru. Seperti halnya penggunaan kendaraan listrik yang akan menuntut pengerukan sumber daya skala besar.

Rasionalitas teknologi juga bukanlah jawaban atas permasalahan lingkungan yang terjadi. Rasionalitas teknologi adalah anggapan bahwa segala masalah yang ada, itu bisa diselesaikan dengan adanya teknologi yang lebih mumpuni. Seperti yang kita ketahui, penggunaan teknologi baru belum tentu bisa mengentaskan masalah lingkungan yang ada.

MITOS PEMBANGUNAN
Pembangunan sering dikaitkan dengan modernitas dan pertumbuhan ekonomi. Pandangan menuju kemodernan menjadi sebuah pembenaran terhadap penggusuran dan pengalihan fungsi lahan, Seperti pembangunan jalan Tol dibeberapa daerah di Indonesia dan pembangunan YIA.

Baca Juga  3 Desa di Bojongmangu Bekasi Krisis Air Bersih

Akan tetapi bayangan kemodernan yang mencerminkan kemajuan teknologi dan penyediaan akses telah menimbulkan banyak tumbal. Modernitas menimbulkan problem di mana banyak masyarakat kehilangan mata pencaharian hidup seperti; petani yang tanahnya dijadikan sengketa, serta PLTU yang mencemari laut sumber ekonomi bagi nelayan.

Belum lagi narasi pertumbuhan ekonomi yang tidak jelas pemerataannya. Proyek pembangunan sering kali keuntungannya hanya dirasakan oleh segelintir kaum elit saja, yaitu para pemodal dan investor, Tidak ada manfaat berkelanjutan bagi masyarakat yang tanahnya terjamah. Masyarakat terpaksa berganti profesi menjadi buruh atau membuka usaha lain yang belum tentu menjamin, dan belum tentu mereka punya modal.

Mitos pertumbuhan ekonomi di atas tidak lepas dari pandangan positivistik. Logika pertumbuhan ekonomi yang dibangun oleh positivistik menilai pertumbuhan ekonomi suatu daerah dari kenaikan pendapatan atau peningkatan produksi. Positivistis hanya menilai pertumbuhan ekonomi dari data kenaikan pendapatan negara, sedangkan bisa jadi kenaikan itu bukan karena rakyat yang sejahtera, melainkan dari naiknya pendapatan segelintir orang kaya.

Pembangunan yang menjanjikan pertumbuhan ekonomi nyatanya tidak sesuai harapan. Menurut Leftwich walaupun pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang terdata mencapai kenaikan rata-rata 5% dari tahun 1960, pertumbuhan tersebut tidak didistribusikan dengan merata, baik antarkawasan, atau kelompok-kelompok sosial. Hal ini menyebabkan tingginya kesenjangan antara orang-orang kaya dan masyarakat miskin.

Oleh karena itu, Pembangunan kehilangan dukungan dari publik. Masyarakat tidak percaya lagi perusakan lingkungan dapat memberikan kehidupan yang lebih baik. Muncul penolakan terhadap pembangunan di berbagai daerah. Seperti konflik yang terjadi di Rempang.

Kasus pulau rempang menjadi peristiwa yang cukup dramatis. Pulau rempang sudah ditetapkan sebagai lokasi pembangunan Eko city yang mencangkup beberapa bidang usaha seperti; pabrik, apartemen, tempat wisata dll. Rencana investasi jumbo yang berkaitan dengan banyak pihak ini, mendapatkan resistensi yang cukup masif. Bentrokan antara pihak pemerintah dan warga terjadi secara terbuka. Hal ini ramai menjadi topik di beberapa media yang memperlihatkan konflik aparat keamanan dan masyarakat pulau Rempang.

Penolakan masyarakat Rempang didasari banyak faktor antara lain; pembangunan tersebut mengancam tempat tinggal mereka. masyarakat setempat yang notabene adalah nelayan dan petani akan kehilangan mata pencaharian mereka. Dan kita tahu, 2 profesi tersebut adalah profesi yang sangat bergantung dengan kondisi alam.

Berita tentang Aksi penolakan atas proyek-proyek pembangunan, bisa dibilang telah membanjiri negara kita setiap tahunnya. Wacana-wacana yang dihadirkan juga beragam, Banyak teori dan juga disiplin ilmu yang mendasari aksi-aksi tersebut. Yang jelas, Hal ini merupakan gagasan yang dipegang teguh oleh masyarakat untuk memperjuangkan penjagaan atas alam. 3 diantara gagasan yang ada yaitu; Ekomarxis, HAM ekosob, dan Nilai-nilai tradisional.

A. EXOMARXIS
Ekomarxis merupakan gabungan dari 2 istilah yaitu; ekologi dan marxisme. Ekologi adalah ilmu yang mebahas hubungan timbal balik antara manusia dan alam. Sedangkan Marxisme adalah paham yang berlandaskan pemikiran Karl marx. Jika kita berbicara tentang Marx, tentunya kita bicara akan kritik terhadap kapitalisme.

Pandangan ekomarxis adalah pandangan yang mengaitkan krisis ekologi dengan kapitalisme. Mengapa demikian? Kapitalisme merupakan ideologi yang sangat berpengaruh terhadap praktik pembangunan. kapitalisme mendorong pemilik modal mengembangkan usahanya dan meraup keuntungan sebesar-besarnya dengan modal seminim mungkin.

Seorang kapitalis akan melakukan ekspansi dengan cara apapun. Termasuk dalam hal ini, pembangunan yang mengatasnamakan proyek negara. Seperti yang kita ketahui, pembangunan di negara-negara dunia ketiga, lebih didominasi oleh kepentingan investor. Hal ini bisa dilihat dari manfaat pembangunan yang lebih terarah kepada kaum elit. Sedangkan masyarakat menengah kebawa tidak mendapatkan manfaat yang signifikan.

Negara dengan sistem kapitalisme, menghisap sumber daya alam dan manusia melalui daur produksi dan konsumsi (barang-barang). Salah satunya ialah pengerukan bahan mentah yang didapat dari alam. Contoh bahan bakar fosil yaitu; batu bara dan minyak bumi yang memakan jutaan tahun dalam pembentukannya.

Eksploitasi bahan bakar fosil terus menerus oleh kapitalisme dengan skala gigantik, tidak hanya menuntut adanya ekspansi ke wilayah lain dan Defisit, Akan tetapi dalam waktu tertentu, memicu serangan balik dalam bentuk bencana ekologis. Seperti banjir, longsor dan kebakaran hutan. Dapat anda liat faktanya di video documenter Sexy killer, chanel youtube watchdoc.

Ekomarxis menolak argumen yang menyatakan bahwa krisis iklim/lingkungan terjadi secara alamiah. Maksudnya sebuah krisis terjadi karena ulah manusia secara watak, dan setiap manusia bertanggung jawab atas krisis yang terjadi, atau krisis itu karena memang kehendak alam itu sendiri.

Bagi Ekomarxis kapitalisme lah yang bertanggung jawab atas krisis yang terjadi. Sebab ekspansi kapital yang menghalalkan segala cara, telah meninggalkan jejak kerusakan permanen terhadap alam. Begitu juga dengan Covid-19 pada tahun 2019 akhir.

Seorang tokoh Ekomarxis bernama Andreas Malm mengaitkan Covid-19 dengan deforestasi yang dilakukan kapitalisme. Virus corona awalnya bukanlah penyakit, ia secara alamiah hidup di tubuh inangnya yaitu kelelawar. Kelelawar memiliki toleransi terhadap patogen intraseluler, sehingga ia tidak sakit meskipun menjadi inang virus corona. Ketika hutan yang merupakan habitat asli bagi kelelawar diganggu, hewan ini akan keluar dari habitatnya kemudian menginfeksi satwa lain. Virus corona yang sudah berpindah inang (selain kelelawar) akan menjadi penyakit dan akhirnya sampai kepada manusia.

Dari gambaran di atas, bisa dipahami bahwasanya tidak ada sesuatu yang terjadi secara natural. Semua reaksi balik yang ditunjukan oleh alam itu mempunyai sebab, dan beberapa sebab yang ada itu diciptakan oleh kapitalisme. Sehingga penjagaan atas alam lebih tertuju kepada perlawanan terhadap ekspansi kapitalisme.

Namun gerakan ini sangat sulit untuk sampai pada pergerakan akar rumput. Terutama di Indonesia, di mana istilah “Marxis” telah ditanamkan kesan buruk oleh hegemoni orde baru. Gerakan ini hanya menjadi diskusi bagi kalangan tertentu seperti mahasiswa dan kelompok gerakan kiri. Belum lagi istilah ini terdengar asing bagi masyarakat awam.

Baca Juga  Strategi Penurunan Short-form Video Addiction di TikTok Berbasis Teori Ekologi Bronfenbrenner oleh Mahasiswa Psikologi UNAIR

B. PERJUANGAN HAM
Hak Asasi Manusia adalah hal mendasar yang ada pada setiap manusia dan harus dilindungi serta dihormati. Merupakan kewajiban bagi setiap orang untuk menghargai hak-hak orang lain. Tidak heran jika banyak gerakan-gerakan yang muncul demi melindungi masyarakat yang hak-haknya ditindas.

HAM mencangkup hal yang paling fundamen, seperti hak atas pekerjaan yang layak, tempat tinggal, status sosial, ekonomi dll. Kesejahteraan bagi seseorang bisa dilihat jika Hak Asasinya sebagai manusia terjamin. Hal ini tertera dalam konvenan HAM internasional inggris sebagai berikut; Setiap orang berhak atas tingkat hidup yang memadai untuk kesehatan, kesejahteraan diri dan keluarganya, termasuk hak atas pangan, pakaian, perumahan dan perawatan kesehatan serta pelayanan sosial yang diperlukan, dan berhak atas jaminan pada saat menganggur, menderita sakit, cacat, menjadi janda/duda, mencapai usia lanjut atau keadaan lainnya yang mengakibatkannya kekurangan nafkah akibat pengaruh yang berada di luar kekuasaannya.

Lalu apa kaitannya HAM dengan pembangunan yang merusak alam? Seperti yang disebutkan di atas, bahwa Pembangunan telah menimbulkan banyak tumbal. Mulai dari petani yang kehilangan lahan sebagai mata pencaharian hidup, warga yang kehilangan tempat tinggal, dan kualitas lingkungan hidup yang rusak.

Pembangunan di suatu daerah menimbulkan ketidak-pastian dan kebingungan. Menurut Frans Magnis Suseno jaminan kesejahteraan adalah mengatasi rasa cemas dan ketakutan masyarakat, seperti pertanyaan; bagaimana cara bertahan hidup?, mau tinggal dimana?, nanti mau kerja apa?, anakku sekolahnya gimana?. Justru pertanyaan-pertanyaan ini timbul akibat pembangunan, khususnya bagi para petani dan nelayan.

Meskipun Pembangunan dilaksanakan atas dalih menyediakan lapangan kerja, dalam faktanya pekerja informal(kontrak) lebih banyak ketimbang pekerja formal (tetap). Menurut kompas, penciptaan lapangan kerja walaupun berefek pada jumlah pengangguran yang menurun, namun pekerja informal tetap tinggi (62-65%). Ini artinya pekerjaan yang disediakan oleh pembangunan belum disebut kategori “layak”. Sedangkan petani bisa bekerja di sawahnya seumur hidup.

Lapangan pekerjaan yang tidak menjanjikan menjadi alasan yang kuat bagi masyarakat untuk menolak perusakan alam. Salah satu aktivis penolakan masyarakat rempang, Bang Long (Iswandi bin M. yakub), mengungkapkan kecemasannya terhadap nasib para nelayan di pulau rempang. Jika proyek ECO CITY Rempang terealisasi, maka yang akan terpontang panting adalah nelayan akibat laut yang terkena dampaknya.

Ketika alam berubah akibat pembangunan, masyarakat juga ikut berubah dan mungkin terpontang-panting. Oleh karena itu, timbul ketidak percayaan masyarakat akan pembangunan yang menjanjikan kemajuan dan pertumbuhan ekonomi. Kemudian masyarakat mempertanyakan; di mana tanggung-jawab pemerintah yang harusnya melindungi HAK ASASI MANUSIA? Semangat menjaga alam dari kerusakan adalah semangat menjaga HAK ASASI MANUSIA.

C. NILAI-NILAI TRADISIONAL
Tradisi merupakan gagasan turun-temurun dari nenek moyang yang masih dipegang teguh oleh masyarakat. Selain berkaitan dengan perilaku masyarakat, tradisi juga berkaitan dengan penilaian tentang cara-cara yang dianggap baik dan benar untuk dilakukan. Seperti halnya tradisi sopan satun yang berkaitan dengan cara berinteraksi dengan orang lain.

Nilai-nilai yang diwariskan oleh tradisi juga ada yang mencangkup pandangan tentang alam. Nilai-nilai tersebut menjelaskan “cara yang baik” bagi masyarakat dalam berhubungan dengan alam, seperti mengsakralkan hutan, tidak menyiksa hewan, mengkeramatkan saluran air dll.

Masyarakat adat yang masih memegang teguh nilai-nilai tradisionalnya tentang alam, cenderung menolak adanya perusakan atau pencemaran alam oleh pembangunan, Seperti penolakan Reklamasi teluk Benoa di bali (29 Mei 2016). Warga desa Tanjung Benoa dan puluhan ribu masyarakat bali menolak adanya Reklamasi tersebut.

Masyarakat hindu di bali masih memegang teguh nilai-nilai budaya yang diwariskan. Teluk benoa dianggap kawasan suci bagi Agama hindu. Kitab suci umat hindu yaitu Weda, menyebutkan bahwa tempat-tempat suci dan harus dilindungi adalah gunung, danau, pantai, muara, laut dan sebagainya. Oleh karena itu, mereka menganggap bahwa teluk benoa harus dijaga dari kerusakan.

Ernst Cassire menyatakan bahwa manusia adalah bentuk animal symbolicum. Manusia memiliki kemampuan menerjemahkan simbol-simbol dan membuatnya mampu menciptakan kebudayaan dan sejarah. “Pemahaman simbolis adalah proses yang bisa membuat Manusia tidak sekadar mengulang pengalaman masa lampau, Melainkan juga menyusun kembali pengalaman itu”.

Gerakan-gerakan yang berlandaskan nilai-nilai tradisional, bisa dibilang cukup masif dan jangkauan waktunya panjang. Pembangunan itu ada, karena anggapan positif terhadap modernisasi. Modernisasi di negara-negara berkembang lebih merujuk kepada peniruan segala sesuatu dari barat, mulai dari infrastuktur, sistem ekonomi, budaya, sampai cara berfikir. Hal ini sangat kontra sekali dengan nilai-nilai adat yang masih eksis di Masyarakat Indonesia.

Penguasa biasanya menggunakan modernitas sebagai legitimasi. Modernisasi merubah persepsi pada materi yang tadinya dianggap sakral oleh masyarakat menjadi profan (tidak bersangkutan dengan nilai apapun). Maka strategi awal bagi penguasa dalam melakukan ekspansi ialah menanamkan ideologi modern pada masyayarakat.

Nilai-nilai tradisional sangat berpengaruh terhadap sikap yang akan diambil masyarakat. oleh karena nilai tradisional dianggap menjadi penghambat bagi modernisasi. masyarakat harus diarahkan ke pandangan hidup modern melalui sosialisasi keluarga, sekolah dan juga publik. Begitu usaha sosialisasi terlaksana, maka muncullah stereotip terhadap nilai-nilai tradisional.

KESIMPULAN
Perjuangan menjaga lingkungan hidup merupakan kewajiban dan tanggung-jawab setiap orang. Perjuangan ini tentunya memerlukan usahan ditingkat praxis. Akan tetapi, membangun pondasi untuk pergerakan yang masif memerlukan gagasan dan ide yang progresif. Ide-ide penjagaan lingkungan dapat kita pelajari melalui diskusi.

Ide-ide penjagaan lingkungan hidup harus terus diperjuangkan. Namun, penting juga untuk mengkritisi tawaran-tawaran dari setiap ide. Pengkritisan yang dilakukan oleh pelajar terealisasi melalui diskusi. Menghidupkan diskusi lingkungan merupakan modal besar untuk memperjuangkan penjagaan lingkungan.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *