Komunikasi Virtual dan Komunikasi Tatap Muka, Apa yang Hilang?

Oleh : Ratu Chiandita Meidinah Ramdani, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB

JurnalPost.com – Dalam era digital yang semakin maju, komunikasi telah mengalami perubahan yang signifikan. Kita kini lebih sering mengandalkan dan nyaman berinteraksi melalui layar perangkat elektronik daripada bertemu langsung dengan orang lain. Hal itu bermula saat seluruh dunia dilanda pandemi Covid-19. Pembatasan tatap muka selama pandemi memaksa hampir semua aktivitas dan kegiatan berpindah secara virtual, termasuk berkomunikasi.

Secara etimologi kata komunikasi berasal dari bahasa Inggris yaitu “communication” yang diambil dari bahasa Latin yaitu “communitio” yang artinya menyampaikan atau menyebarluaskan. Menurut Laswell komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan melalui sebuah saluran (channel) yang menimbulkan efek tertentu.

Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa komunikasi virtual adalah suatu proses penyampaian pesan yang disampaikan oleh komunikator kepada komunikan melalui suatu media maya agar bisa terhubung dengan lawan bicara, dengan maksud untuk mempengaruhi mereka yang pada akhirnya menghasilkan efek dan diharapkan adanya feedback dari proses komunikasi tersebut.

Peralihan Komunikasi Tatap Muka

COVID-19 menjadi faktor yang mendorong manusia untuk beralih dari interaksi tatap muka menjadi komunikasi virtual sebagai solusi utama dalam mengatasi pembatasan fisik. Peralihan ini tidak hanya mencakup aktivitas bisnis dan pekerjaan, tetapi juga mencakup kegiatan sehari-hari seperti pertemuan keluarga, pendidikan, dan acara sosial.

Dalam konteks ini, aplikasi video konferensi seperti Zoom, Microsoft Teams, dan Google Meet menjadi solusinya. Di sisi lain, maraknya komunikasi virtual telah mempercepat perkembangan teknologi dan keamanan dalam platform-platform tersebut. Keamanan data dan privasi pengguna kerap menjadi fokus utama.

Pengaruh Komunikasi Virtual

Meskipun memberikan kemudahan dan fleksibilitas sebagai dampak positif, tidak dapat dipungkiri bahwa sering disertai dengan tantangan, salah satunya seperti kehilangan kemampuan berbicara secara langsung karena ketergantungan pada komunikasi virtual. Atmosfer dan konektivitas emosional akan lebih dirasakan saat berkomunikasi secara tatap muka. Berbicara dengan bahasa tubuh, kontak mata yang intens, dan emosional langsung menciptakan koneksi yang lebih mendalam antar individu. Dalam konteks ini, ketergantungan pada pesan teks dan emoji dalam komunikasi virtual dapat merugikan kemampuan seseorang untuk mengungkapkan nuansa emosional dengan baik. Ekspresi wajah, intonasi suara, dan bahasa tubuh menjadi terbatas dan mengakibatkan hilangnya esensi komunikasi.

Baca Juga  Polemik Sengketa Pemilihan Presiden 2024, Proses yang Terus Berlarut dan Rakyat dibuat Heran

Selain itu, ketergantungan pada komunikasi virtual menjadi salah satu faktor seseorang dalam menyampaikan pendapat atau merespons tanpa pertimbangan yang matang karena keberadaan fisik lawan bicara tidak terlihat secara langsung. Hal ini dapat berdampak pada kualitas interaksi sosial dan kemampuan berbicara secara efektif dalam situasi tatap muka. Ketergantungan yang semakin besar pada komunikasi virtual akan menyebabkan individu merasa kurang nyaman atau kurang terampil saat berhadapan langsung dengan orang lain setelah terbiasa dengan interaksi virtual.

Kebutuhan dan Esensi Komunikasi

Komunikasi bukan hanya sekadar pertukaran kata-kata, melainkan juga melibatkan dimensi bahasa, logika, dan komunikasi verbal maupun ekspresi non verbal. Komunikasi tatap muka memiliki esensi yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh komunikasi virtual. Meskipun teknologi digital telah memudahkan kita dalam berkomunikasi, namun komunikasi nonverbal seperti ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan kontak mata secara langsung hanya didapatkan dalam pertemuan tatap muka.

Lalu apakah komunikasi tatap muka akan digantikan sepenuhnya oleh komunikasi virtual atas dasar kenyamanan yang dirasakan oleh penggunanya?. Menurut hasil survei kesehatan jiwa yang dilakukan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), saat pandemi mengharuskan semua kegiatan dilakukan secara virtual sebanyak 68% responden mengaku cemas, 67% depresi, dan 77% mengalami trauma psikologis.

Gejala cemas paling utama yang dirasakan responden adalah merasa sesuatu yang buruk akan terjadi, khawatir berlebih, mudah marah atau jengkel, dan sulit untuk rileks. Sementara gejala depresi utama yang dirasakan gangguan tidur, kurang percaya diri, lelah tidak bertenaga, dan kehilangan minat. Hal itu dirasakan oleh para responden pada separuh waktu dan hampir sepanjang hari dalam dua minggu terakhir.

Sementara itu, trauma psikologis berkaitan dengan responden yang mengalami atau menyaksikan peristiwa tidak menyenangkan terkait COVID-19. Survei tersebut melibatkan 1.522 responden dan paling banyak adalah perempuan 76,1% dengan usia minimal 14 tahun dan maksimal 71 tahun. Responden paling banyak berasal dari Jawa Barat 23,4%, DKI Jakarta 16,9%, Jawa Tengah 15,5%, dan Jawa Timur 12,8%.

Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh Jill Newby dan rekannya dari Universitas New South Wales di Black Dog Institute, Sydney, Australia, menyebutkan bahwa krisis kesehatan mental yang terjadi sebanyak 22% mengalami gejala sedang. Sementara itu 24,1% orang yang disurvei mengalami tingkat depresi, kecemasan, dan stres yang cukup tinggi.

Baca Juga  U’Rafting Membuka Pintu Petualangan Ekstrem di Ranah UMKM Kabupaten Bogor

Penelitian tersebut dilakukan terhadap 5070 orang dewasa di Australia pada kurun waktu 27 Maret hingga 7 April 2020 yang dianggap sebagai puncak pandemi COVID Australia. Orang-orang dengan riwayat gangguan kesehatan mental sebelumnya, memiliki diagnosis kesehatan mental seperti kecemasan dan ketakutan terhadap COVID-19 yang lebih tinggi pula. Tingkat kekhawatiran masyarakat karena adanya pandemi ini juga meningkat, 78% responden dalam survei melaporkan bahwa kesehatan mental mereka memburuk sejak adanya wabah. Seperempat atau 25,9% sangat khawatir tertular COVID-19, dan setengahnya atau 52,7% mengkhawatirkan keluarga dan teman mereka apabila tertular COVID-19.

Dari berbagai survei yang telah dilakukan mengenai krisis kesehatan mental masyarakat saat pandemi, dapat disimpulkan bahwa hal yang nyaman dilakukan pun akan tetap berdampak pada kesehatan mental. Sehingga dapat disimpulkan bahwa komunikasi tatap muka tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh komunikasi virtual sebab kebutuhan manusia dalam komunikasi tatap muka sangat berpengaruh terhadap kesehatan jiwa manusia yang terbiasa berkomunikasi langsung.

Kolaborasi antara komunikasi tatap muka dan virtual menjadi bentuk penting untuk tetap melek teknologi tanpa mengorbankan kualitas dan keintiman dalam komunikasi. Penggunaan komunikasi virtual, seperti video konferensi dan pesan instan, memberikan keuntungan efisiensi dan kemudahan akses yang luar biasa. Namun, komunikasi tatap muka membawa kelebihan kontak fisik, bahasa tubuh yang lebih kaya, dan interaksi spontan yang sulit dicapai dalam ruang digital.

Dengan memahami kekuatan masing-masing cara berkomunikasi, kita dapat menciptakan kombinasi yang seimbang, di mana teknologi mendukung komunikasi kita tanpa mengorbankan nilai-nilai dalam kebersamaan manusiawi. Melalui kolaborasi ini, kita tidak hanya tetap terhubung secara global, tetapi juga memelihara kualitas hubungan dan keintiman yang membuat komunikasi manusiawi unik dan bermakna. Dengan begitu, kita dapat merangkul masa depan teknologi tanpa kehilangan keaslian dan substansi dalam cara kita berinteraksi satu sama lain.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *