Jawi dalam Tradisi Minangkabau | Jurnalpost

JurnalPost.com – “Jawi” atau dalam bahasa Indonesia merujuk kepada hewan sapi merupakan salah satu bagian yang sangat menonjol di kehidupan budaya masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat. Sapi atau lembu merupakan hewan ternak anggota famili Bovidae dan subfamili Bovinae. Sapi biasanya untuk dimanfaatkan susu dan dagingnya sebagai pangan manusia. Hasil sampingannya seperti kulit, jeroan, tanduk, dan kotorannya juga dimanfaatkan untuk berbagai keperluan manusia. Di sejumlah tempat, sapi juga dipakai sebagai penggerak alat transportasi, pengolahan lahan tanam (bajak), dan alat industri lain (seperti peremas tebu). Karena banyak kegunaan ini, sapi telah menjadi bagian dari berbagai kebudayaan manusia sejak lama. Bahkan, kegiatan kebudayaan yang menggunakan sapi pun masih banyak.

Peran “Jawi” dalam Pembentukan Budaya Gastronomi Minangkabau
Letak geografis Sumatera Barat yang subur dan kaya akan sumber daya alam yang melimpah membuat masyarakat Minangkabau memanfaatkan berbagai sumber daya alam yang ada untuk kepentingan hidup mereka salah satunya sapi. Sapi menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam dunia pertanian bagi masyarakat Minangkabau. Salah satu contoh dari arti penting “Jawi” bagi masyarakat Minangkabau adalah dalam menggarap sawah. Sawah merupakan sumber pangan utama masyarakat Minangkabau yang menghasilkan beras yang dapat diolah menjadi nasi lalu di lahirkan lah berbagai jenis lauk pauk nasi yang ada dalam kehidupan masyarakat Minangkabau bahkan hingga terkenal ke luar wilayah Minangkabau bahkan ke kancah dunia internasional. Secara Gastronomi, dikenal dua menu utama dengan nasi sebagai bagian utama dalamnya yaitu Nasi Padang serta Nasi Kapau. Kedua hidangan ini menjadi ciri makanan berupa nasi paling terkenal dari Ranah Minangkabau. Walaupun berasal dari dua daerah yang berbeda di Sumatera Barat dan memiliki karakteristik masing-masing terutama di dalam pilihan menu nya, nasi yang berasal dari hasil sawah masyarakat Minangkabau dengan bantuan “Jawi” secara tidak langsung di dalamnya tetap sama.

Selain keberadaan nasi dalam hidangan Minangkabau yang menjadi bukti Gastronomi pentingnya sapi di dalam kehidupan budaya Minangkabau, sapi juga dimanfaatkan secara langsung bagian tubuhnya ke berbagai bentuk sajian makanan. Daging sapi di manfaatkan oleh masyarakat Minangkabau ke dalam bentuk masakan seperti Rendang daging, Gulai daging, Sate daging, dan sebagainya. Bahkan Rendang telah menjadi identitas utama kebudayaan Minangkabau dalam makanan bahkan bagi kebudayaan Indonesia. Rendang pernah menjadi masakan paling lezat sedunia di tahun 2016 oleh CNN dan semenjak itu Rendang selalu berada dalam daftar masakan terenak di dunia di berbagai sumber survei dari berbagai negara di dunia. Tidak hanya dagingnya saja, namun bagian tubuh sapi lain seperti jeroan dan kulit juga dimanfaatkan sebagai menu masakan tradisional Minangkabau. Gulai Tambusua merupakan contoh menu masakan yang menggunakan jeroan berupa usus yang kemudian diisi dengan telur lalu di masak di kuah gulai dan biasanya di temukan di dalam lauk pada nasi Kapau dari Nagari Kapau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Lalu kulit nya diolah oleh masyarakat Minangkabau menjadi kerupuk Jangek (Kerupuk kulit sapi).

Baca Juga  Diragukan Bisa Menangkap Harun Masiku, Firli: Ricky Ham dan Izil Azhar Juga Dinilai Gitu

Peran “Jawi” dalam Pembentukan Tradisi Kehidupan Masyarakat Pertanian Minangkabau
Di zaman dahulu, seperti kita tahu bersama teknologi pertanian belum berkembang pesat seperti saat ini dengan adanya traktor yang dapat lebih memudahkan pekerjaan para petani untuk menggarap sawah mereka. “Jawi” memiliki peran penting di masa itu untuk memastikan ketahanan pangan dalam komunitas masyarakat Minangkabau. Bahkan hingga saat ini “Jawi” masih terus di gunakan di beberapa daerah untuk menggarap sawah karena dianggap lebih hemat, faktor kebiasaan, serta telah menjadi budaya di dalam masyarakat petani Minangkabau.

Dengan hal itu, tercipta beberapa tradisi Minangkabau yang melibatkan “Jawi” atau sapi di dalamnya, salah satunya adalah tradisi “Pacu Jawi” yang secara harfiah dapat di artikan sebagai perlombaan pacu sapi. Walaupun secara garis besar “Pacu Jawi” memiliki kemiripan dengan “Karaban Sapi” dari Madura, keduanya memiliki perbedaan yang mencolok yaitu lahan yang digunakan. Kalau “Karapan Sapi” menggunakan tanah datar sebagai arena, sedangkan Pacu Jawi menggunakan area sawah yang sudah basah. Tradisi ini berkembang di daerah Minangkabau terutama di nagari Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. “Pacu Jawi” merupakan tradisi Minangkabau yang dilaksanakan setelah panen sawah selesai.

Tradisi “Pacu Jawi” lahir akibat kebiasaan masyarakat pertanian Minangkabau yang menggunakan sapi sebagai alat bantu menggarap sawah mereka. Dari sini mereka mulai membentuk kebudayaan khas mereka yang melahirkan tradisi “Pacu Jawi” dengan tujuan menggarap sawah agar siap ditanami padi. Bagi masyarakat di Kabupaten Tanah Datar, “Pacu Jawi” memiliki banyak makna. Nilai luhur disebutkan juga terkandung di dalam tradisi ini salah satunya mengingatkan masyarakat untuk berjalan lurus dan mampu bekerja sama dengan baik tanpa bersinggungan. Di sini lain juga memiliki tujuan meningkatkan silaturahim. Namun saat ini makna “Pacu Jawi” sudah mulai bergeser menjadi ajang memperkenalkan budaya dan adat Minangkabau ke dunia luar serta menjadi destinasi wisata bagi daerah yang berdampak pada penambahan pendapatan serta perputaran ekonomi dalam masyarakat.

Baca Juga  Rugby viral video tiktok

Peran “Jawi” dalam Nilai Kehidupan Masyarakat Minangkabau
“Jawi” atau sapi memiliki peran penting dalam menunjukkan nilai-nilai kehidupan pada komunitas masyarakat Minangkabau. Nilai-nilai tersebut dapat ditemukan di berbagai aspek kehidupan masyarakat yaitu:

1. Menyimbolkan Nilai Kekuatan serta Kesejahteraan
Sapi dianggap sebagai simbol kekuatan dikarenakan sapi memiliki kekuatan yang sangat kuat sehingga dapat menggarap sawah yang luas dan dapat menghidupi masyarakat Minangkabau yang ada di sekitar ladang tempat ia menggarap. Sapi juga disimbolkan sebagai penunjuk kesejahteraan suatu kelompok masyarakat karena dengan jumlah sapi yang semakin banyak dimiliki oleh masyarakat Minangkabau menunjukkan bahwa suatu keluarga tersebut memiliki ekonomi yang mapan karena dengan harga sapi yang cukup mahal mereka dapat memiliki sapi yang banyak.

2. Keharmonisan dan Solidaritas
Sapi banyak digunakan sebagai objek seserahan dalam berbagai adat istiadat dan upacara besar dalam kebudayaan Minangkabau. Hal ini tidak terlepas dari peranan sapi sebagai bukti solidaritas dan keharmonisan yang mengikatkan golongan yang ada di dalam masyarakat Minangkabau semakin erat.

3. Nilai Spiritual dan Adat
Dalam adat Minangkabau sapi sering dilibatkan dalam berbagai acara seperti pernikahan dan lain sebagainya. Sapi di sini memiliki simbol sebagai keberkahan terhadap suatu acara dan keberlangsungan hidup dalam masyarakat Minangkabau. Sapi juga menyimbolkan nilai pengorbanan yang dapat dilihat dari berbagai acara yang menggunakan sapi sebagai hewan yang dikurbankan.

4. Konservasi Budaya
Di penjelasan sebelumnya banyak dikatakan bahwa sapi terlibat di banyak upacara-upacara adat dalam tradisi Minangkabau sehingga sapi dapat berperan sebagai agen pelestarian budaya dan dapat dilakukan dengan mengetahui cara perawatan serta pemeliharaan sapi agar dapat tetap terlibat dalam upaya pelestarian budaya masyarakat Minangkabau dan terciptanya keberlangsungan tradisi yang konsisten.

“Jawi” atau sapi dalam kehidupan masyarakat Minangkabau telah melewati batas hanya sebagai sumber makanan maupun membantu pekerjaan sehari-hari, namun telah menjadi identitas budaya yang berada di banyak aspek budaya sehingga mempengaruhi banyak nilai budaya Minangkabau dengan dasaran “Alam Takambang Jadi Guru” yang memiliki arti belajar dan mengambil nilai-nilai luhur dari alam Minangkabau yang kaya. “Jawi” telah menjadi bagian yang tidak terlepas kan dalam adat istiadat Minangkabau dan selalu memberikan pengajaran nilai kehidupan bagi orang Minang beserta budaya nya.

Disusun oleh :
Muhammad Fitrah Ramadhani
Mahasiswa Universitas Andalas Fakultas Ilmu Budaya
Program Studi Sastra Jepang

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *