Childfree dan Stigmanya di Masyarakat Indonesia

JurnalPost.com – Fenomena childfree atau hidup tanpa anak menjadi topik hangat yang saat ini banyak diperdebatkan oleh masyarakat di media sosial. Istilah childfree mulai bermunculan pada akhir abad ke-20 dan lebih dahulu menjadi tren di luar negeri. Awal tahun 2023 ini, salah satu pasangan yang aktif menjadi content creator di kanal Youtube, Gita Savitri dan Paul Partohap, speak up bahwa mereka menerapkan prinsip childfree di dalam pernikahan mereka. Karena hal ini, netizen dibuat geger dan berpecah dengan memberikan pandangan mereka terhadap fenomena ini di media sosial.

Seiring perkembangan zaman, cara berpikir manusia akan terus berevolusi. Bagi sebagian orang, terutama orang-orang yang sudah berumur dan sudah lama mengalami lika-liku kehidupan, akan menganggap fenomena ini adalah hal tabu karena mereka beranggapan jika suatu pasangan sudah memasuki jenjang pernikahan, maka step selanjutnya adalah melahirkan dan membesarkan anak. Namun, bagi generasi muda, hal ini banyak menuai perdebatan yang memunculkan pro dan kontra. Fenomena ini sangat berkaitan dengan sistem patriarki dan misogini yang masih kental di masyarakat Indonesia.

Dalam komentar dari video yang diposting oleh Gita, ia menuliskan, “Not having kids is indeed natural anti-aging. You can sleep for 8 hours every day, no stress hearing kids screaming. And when you finally got wrinkles, you have the money to pay for botox.” (Gita Savitri Devi). Kalimat ini menjadi kontroversial di media sosial yang membuat publik figur ini di-roasting oleh netizen. Tak lama dari itu, publik figur ini mengunggah video klarifikasi yang menyatakan bahwa ia tidak bermaksud untuk menghina pihak mana pun, dan keputusannya dengan suami untuk childfree adalah keputusan yang sudah dipikirkan matang-matang dan itu merupakan urusan pribadinya, bukan urusan maupun konsumsi publik.

Irooyan, pengguna situs Quora, berpendapat jika ia menganut konsep childfree, berarti ia menutup peradaban dan kemajuan teknologi di masa depan, tidak ada lagi habibi-habibi baru yang lahir, tidak ada yang akan meneruskan dakwah Islam di masa depan (Irooyan Alfi Aziz, 2023). Kehidupan di masa tua jika kita menganut childfree mungkin akan terasa sangat sepi, jika kita jatuh sakit dan pasangan pun sudah tidak bisa membantu, kepada siapa kita harus meminta tolong?

Baca Juga  Penandatanganan Tax Center Mitra Pajak dengan SMK Jakarta Timur 1

Indonesia sebagai negara dengan penduduk terbanyak ke-4 di dunia, jika banyak pasangan suami istri di negara ini memilih untuk childfree, hal ini akan sangat berpengaruh terhadap demografi penduduk Indonesia. Ke depannya, akan menyebabkan minimnya orang-orang dengan usia produktif yang akan berpengaruh besar terhadap sosial dan perekonomian Indonesia. Sampai saat ini saja Indonesia masih menjadi negara berkembang, apabila di masa depan jumlah generasi berpendidikan di negara ini makin berkurang, kapan Indonesia akan menjadi negara maju?

Saat ini, masih banyak ditemukan pernikahan-pernikahan dini akibat dari pergaulan bebas oleh remaja yang justru menimbulkan kesenjangan (gap) antara remaja dan dewasa. Di satu sisi banyaknya remaja yang sudah memiliki anak karena “kebobolan”, sedangkan banyak dari orang dewasa yang memilih untuk tidak memiliki anak. Hal ini harus menjadi pusat perhatian dari individu maupun negara untuk segera menanggulanginya.

Bila dilihat dari kacamata lain, childfree juga akan berdampak baik dalam segi kualitas penduduk Indonesia. Childfree akan mengurangi tingkat ketidakmerataan pembangunan sehingga akan lebih banyak orang-orang dengan pendidikan yang layak di masa depan. Melihat banyaknya anak-anak yang tidak dapat menikmati pendidikan dengan layak sehingga banyak dari mereka yang dipekerjakan di bawah umur dan melakukan tindak kriminal. Dalam hal ini, childfree akan membantu karena pembangunan oleh negara akan lebih terpusat sebab persebaran penduduk yang tidak membeludak.

Menurut saya, stigma “banyak anak banyak rezeki” tidak sepenuhnya benar. Justru realitas di masyarakat menunjukkan banyak dari keluarga dengan banyak anak, tingkat ekonominya berada di bawah rata-rata. Hal ini dapat dibuktikan karena dengan memiliki anak, tanggung jawab orang tua akan sangat besar sebab harus membesarkan dan menyekolahkan anak mereka, tentu itu semua membutuhkan biaya yang sangat banyak. Saya juga beranggapan bahwa tanggung jawab untuk membesarkan anak merupakan tanggung jawab seumur hidup dan tidak dapat disubstitusikan.

Namun, di sisi lain, saya tidak dapat menampik stigma “banyak anak banyak rezeki” ini juga. Karena dengan orang tua memiliki anak, justru mereka akan semakin giat untuk mencari rezeki agar dapat menghidupi keluarga mereka. Dengan bertambahnya anak, motivasi orang tua untuk mencari nafkah akan semakin besar sehingga keluarga mereka akan diberikan rezeki yang cukup dari Tuhan sebab sudah berusaha maksimal untuk membuat keluarga mereka bertahan.

Baca Juga  Daop 8 Surabaya Sebar Tiket Promo Khusus HUT RI, Ini Daftarnya

Sebagai seorang anak, saya tidak setuju dengan adanya pandangan “anak sebagai investasi”. Banyak yang beranggapan ketika orang tua sudah berumur, anak dapat dijadikan “investasi” yang menjajikan di kehidupan tua mereka. Seperti yang saya sebutkan tadi, tanggung jawab menghidupi anak adalah tanggung jawab seumur hidup. Ketika orang tua sudah tidak mampu untuk mencari nafkah, anak tetaplah tanggung jawab mereka—dapat digarisbawahi, dalam porsi yang berbeda—besaran tanggung jawabnya. Untuk anak yang sudah dapat menghidupi diri sendiri di masa depan (apalagi ketika sudah berkeluarga), “timbal balik” yang mereka berikan kepada orang tua bukanlah sebuah kewajiban, melainkan sebuah naluriah alami sebagai seorang anak untuk tetap patuh kepada orang yang sudah membesarkan mereka sejak lahir.

Kesiapan dari segi finansial dan mental orang tua sangat penting sebelum memutuskan untuk memiliki anak. Tidak ada seorang pun yang menginginkan anak tidak dapat hidup dengan layak. Pada dasarnya, tidak ada anak yang memilih untuk dilahirkan, itu semua adalah keputusan dan tanggung jawab orang tua. Seorang suami juga harus dapat berkompromi dengan istrinya karena yang mengandung dan melahirkan anak adalah istri, bukan suami. Oleh karenanya, diperlukan pemikiran matang-matang mengenai hal ini demi kebaikan anak maupun orang tua.

Keputusan untuk memiliki anak ataupun tidak adalah privasi bagi sepasang suami istri. Orang lain tidak dapat ikut campur dalam keputusan ini. Memiliki prinsip yang berbeda dengan orang lain adalah hal normal, selagi prinsip tersebut tidak merugikan siapa pun. Sebagai masyarakat yang plural, tentu banyak sekali jenis-jenis pandangan. Bila ada pasangan yang childfree, itu bukanlah masalah; bila ada pasangan yang menjalankan prinsip “dua anak cukup”, itu bukanlah masalah; bila ada pasangan yang menunda memiliki anak, itu bukanlah masalah; dan bila ada pasangan yang memiliki banyak anak, itu pun tidak menjadi masalah. Tidak ada benar dan salah di sini karena semua orang mempunyai keputusan mereka sendiri dan harus bisa bertanggung jawab atas itu semua.

Penulis: Rizka Amelya Dwi Suryani
Mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *