Cancel Culture Jawaban untuk Meningkatkan Kualitas Entertainment Indonesia

Cancel culture kini semakin sering digaungkan terutama di media sosial. Kenali selengkapnya mengenai cancel culture.(Foto iStockphotowildpixel)

Oleh: Keysha Sasriya Widya Kusuma

JurnalPost.com – Apabila kita berkaca dengan kualitas hiburan di televisi Indonesia saat ini apakah lebih baik dari lima atau sepuluh tahun kebelakang? Bagaimana kualitas kebanyakan acara televisi di Indonesia? Mengingat televisi adalah sarana hiburan yang paling mudah dan merata di Indonesia, mulai dari masyarakat kota hingga perdesaan menggunakan televisi sebagai salah satu sarana hiburan dirumahnya. Lalu mengapa intensitas masyarakat indonesia dalam menonton televisi sangat berkurang dalam kurun waktu tertentu. Lalu apakah kualitas acara hiburan di televisi semakin tahun meningkat atau malah semakin terjun bebas?

Mari melakukan kilas balik, jika seorang entertainer mengalami suatu permasalahan yang buruk, bagaimana cara mereka menyikapinya, Apakah membuat surat permohonan maaf karena membuat keributan, membatasi interaksi dengan publik atau diundang ke berbagai acara televisi agar menaikan rating acara tersebut, diundang ke berbagai kanal youtube besar untuk melakukan klarifikasi, followers sosial media meningkat, brand berlomba lomba untuk mengendorse, atau bahkan menjadi duta di Indonesia. Apakah tokoh publik yang sedang terkena isu tidak menyenangkan layak mendapatkan semua itu. Sebetulnya bagaimana standar publik figur yang baik untuk dunia entertainment Indonesia, apakah publik figur  yang memiliki prestasi lebih populer dibandingkan publik figur yang membuat sensasi.

Terdengar buruk namun apabila melihat kebelakang kenyataannya seperti itu. Seharusnya khalayak Indonesia sudah mulai terbuka dengan kualitas entertainment yang tersedia di televisi pada saat ini, sinetron salah satu acara yang cukup mudah meraup rating tinggi di Indonesia, namun apakah kualitasnya layak untuk dijadikan tontonan yang menuntun. Hampir semua sinetron televisi di Indonesia mengedepankan kuantitas dibandingkan dengan kualitas tayangannya, mungkin hanya hal itu yang dapat dilakukan demi mempertahankan rating yang tinggi di dunia pertelevisian. Betul adanya bahwa rating adalah tujuan dari semua stasiun televisi, maka kuantitas diutamakan untuk memperpanjang rating yang bagus demi keberlangsungan stasiun televisi.

Baca Juga  Penerimaan CPNS dan PPPK Kemenkumham Tahun 2023 Dibuka Hari Ini

Belum lagi para publik figur yang mempunyai catatan kriminal masih bebas berlalu lalang di berbagai acara televisi, media sosial dan platform publik lainnya, lantas apakah pelaku kriminal layak dijadikan publik figur yang menghiasi dunia hiburan tanah air?. Di Negara maju di luar sana seorang publik menjadi sangat sakral dan ketat kualifikasinya mereka harus memiliki masa lalu yang baik juga berkomitmen menjalankan masa depan dengan sebaik baiknya. Di negara ginseng jika seorang publik figur isukan memiliki masalalu yang buruk maka dapat dikatakan runtuh sudah karir yang telah dia bangun.

Terlebih untuk kasus kasus spesifik contohnya bullying, jika seorang publik figur lokal sana diisukan menjadi pelaku bullying di masa lalunya maka harus bersiap karir yang sudah di bangun dengan keringatnya itu lenyap dengan seketika, khalayak negeri ginseng akan dengan kompak melakukan cancel culture terhadap publik figur yang mereka rasa tidak layang untuk dijadinkan publik figur, mereka akan melakukan aksi pemboikotan terhadap publik figur yang terjerat suatu kasus, semua bentuk pelaku kriminal dilarang muncul di hadapan  televisi, haram hukumnya publik figur yang mempunyai catatan kriminal muncul pada tayangan televisi, otomatis brand-brand pun mundur untuk melakukan kerjasama atau bahkan membatalkan kerjasama. Sederhananya untuk menjaga kualitas tayangan mereka, mereka sangat ketat dalam menyeleksi publik figurnya.

Tayangan sinetron yang memiliki beribu ribu episode menjadi hal yang sangat lumrah di Indonesia, namun yang jadi pertanyaan adalah kualitasnya, setiap episode apakah layak dikatakan sebagai tayangan yang bermutu, semakin tinggi ratingnya semakin gencar dilakukan sistem kejar tayang yang berpotensi meninggalkan kualitas dari suatu tayangan demi keserakahan rating. Mengapa tayangan sinetron tidak dibuat per season, yang mana di setiap pergantian season diberikan jeda untuk para aktor dan aktris yang terlibat agar kembali dengan kondisi yang prima, juga untuk para penulis naskah melahirkan ide ide brilian untuk meningkatkan kualitas cerita dari sinetron, begitupun dengan penonton yang pasti menunggu nunggu tayangan season berikutnya karena dihantui rasa penasaran akan season selanjutnya, dengan begitu kualitas tayangan akan meningkat begitupun dengan rating. Akankah dalam lima tahun kedepan terjadi peningkatan kualitas entertainment di Indonesia.

Baca Juga  Tantangan dan Solusi Mewujudkan Transportasi Berkelanjutan di Indonesia

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *