Bugis Makassar Di Nusantaria Sejak Abad Ke-16

Oleh Muhammad Thaufan Arifuddin, MA
Pengamat Media, Korupsi, Demokrasi, dan Budaya Lokal. Dosen Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Andalas

JurnalPost.com – Bugis Makassar telah menjadi pelaut, pemukim dan penguasa di Asia Tenggara sejak dulu. Mereka juga dipercaya sebagai pedagang yang jujur. Mereka merantau melalui laut ke Malaka, Selangor, Aceh, Riau, Singapura dan Palembang sejak abad ke-16 hingga abad 19 (Ricklefs, 2014; Bowring, 2022). Jalur Makassar adalah jalur perdagangan dan rempah-rempah sejak dulu yang menghubungkan beberapa kota pelabuhan di Asia Tenggara dan semakin meningkat sejak penjajah kolonial, terutama Portugis dan Belanda masuk ke Nusantara.

Penguasa Makassar sangat maju sejak zaman dahulu. Mereka menyukai seni dan ilmu pengetahuan berdasarkan kesaksian Alexander de Rhodes yang bertemu dengan Karaeng Pattingaloang, sosok cendekiawan Makkassar yang menguasai berbagai macam bahasa (Bowring, 2022).

Pada tahun 1650, penduduk Makassar berjumlah 100.000 orang yang menjadikannya sebagai kota pelabuhan yang ramai terutama sejak Belanda merampas Malaka pada tahun 1641 yang membuat pedagang Portugis berpindah ke Makassar. Makassar menjadi kota perdagangan barang-barang dari katun, tembakau, beras, dan bahkan budak (Bowring, 2022).

Alhasil, migrasi orang Bugis Makassar di kawasan Nusantaria (Asia Tenggara) sangat dikenal oleh sejarawan sejak abad ke-16 karena meningkatnya perdagangan dan jumlah penduduk. Dalam catatan Bowring (2022), antara tahun 1722 dan 1786persentase kapal Tiongkok yang datang ke Makassar meningkat dari 7 persen menjadi 39 persen.

Quoted From Many Source

Baca Juga  cara daftar kuliah di Bengkulu terbukti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *