Anarkisme Menurut Chomsky | Jurnalpost

Oleh Muhammad Thaufan Arifuddin
Pengamat Media, Korupsi, Demokrasi, dan Budaya Lokal. Dosen Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Andalas

JurnalPost.com – Anarkisme, sebagai aliran pemikiran, telah menjadi pusat perhatian dalam pandangan Noam Chomsky. Dalam pemikirannya, Chomsky menempatkan dirinya dalam aliran anarkisme yang dianggapnya terkait erat dengan sejarah gerakan rakyat. Artikel ini akan mengeksplorasi pandangan Chomsky terhadap anarkisme, perbandingannya dengan aliran lain seperti anarcho-syndicalism, dan kritiknya terhadap beberapa aspek anarkisme.

Seorang penulis Prancis yang simpatik terhadap anarkisme menulis pada tahun 1890-an bahwa anarkisme memiliki punggung yang luas, seperti kertas yang tahan segala sesuatu” – termasuk mereka yang perbuatannya sehingga seorang musuh bebuyutan anarkisme tidak bisa melakukan yang lebih baik.”

Anarkis dan sejarawan Rudolf Rocker yang menyajikan konsepsi sistematis perkembangan pemikiran anarkis menuju anarkosindikalisme, sejalan dengan karya Guerin, menyatakan dengan baik ketika menulis bahwa anarkisme bukanlah “suatu sistem ajaran yang dapat diformulasikan secara tegas dan pasti.

Woodcock dan Chomsky tidak terlalu jauh berbeda pandangan dalam pertanyaan sentral tentang bagaimana anarki dapat terwujud. Keduanya tampaknya enggan menerima ide tentang momen revolusioner tunggal yang akan menjatuhkan kapitalisme. Sebaliknya, mereka membayangkan bahwa hal itu bisa menjadi suatu proses yang panjang dan berlarut-larut.

Ini adalah gagasan yang juga dibagikan oleh anarkis lain seperti Colin Ward yang, dalam karyanya Anarki dalam Aksi (1973), berpendapat bahwa masyarakat anarkis adalah suatu masyarakat yang mengorganisir dirinya tanpa otoritas, selalu ada yang terkubur di bawah beban negara dan birokrasinya, kapitalisme dan limbahnya, hak istimewa, perbedaan agama, nasionalisme dan fanatisme yang merugikan, perbedaan agama dan separatisme takhayul mereka (Chomsky, 2005).

Baca Juga  Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Sosialisasi Teknologi Digital di Krembangan, Surabaya

Namun, Chomsky mencoba menggambarkan anarkisme sebagai “sosialisme sukarela,” atau sosialisme libertarian yang terkait dengan tradisi anarkis seperti Bakunin dan Kropotkin. Baginya, anarkisme membayangkan masyarakat sebagai “komunitas organik” yang diperintah oleh pekerja dan penduduk sendiri, diintegrasikan melalui federasi.

Chomsky melakukan perbandingan antara anarcho-syndicalism dan anarcho-communism. Dia mendukung anarcho-syndicalism sebagai mode organisasi yang lebih sesuai untuk masyarakat industri maju, memandangnya lebih dapat diwujudkan dan diinginkan dalam kondisi modern daripada anarcho-communism. Prinsip pengendalian oleh pekerja dalam anarcho-syndicalism menjadi salah satu daya tarik utama yang ditekankan oleh Chomsky.

Meskipun mengakui beberapa aspek anarkisme, Chomsky tidak lupa memberikan kritik. Pertama, ia berpendapat bahwa visi anarkisme terlalu jauh dari kemungkinan praktis. Kedua, beberapa proposal anarkisme, menurutnya, dapat mengorbankan keuntungan dari pengembangan usaha industri berskala besar, termasuk penggunaan teknologi canggih untuk mengurangi beban kerja.

Chomsky membedakan antara dua kecenderungan dalam anarkisme, terutama yang diwakili oleh Kropotkin. Sementara Kropotkin mendukung desentralisasi untuk mengimbangi industrialisasi, Chomsky menyoroti kebutuhan akan kemajuan teknologi untuk memungkinkan desentralisasi tersebut. Baginya, teknologi dapat direimaginasikan untuk mendamaikan sensitivitas ekologis dan demokrasi dalam lingkungan yang lebih kecil.

Chomsky tetap menyuarakan relevansi anarkisme, terutama anarcho-syndicalism, dalam konteks modern. Pandangannya mencerminkan upaya untuk membangun jembatan antara tradisi anarkisme dan realitas kontemporer. Baginya, anarkisme sosial menawarkan alternatif yang lebih praktis dan diinginkan dibandingkan dengan aliran lain, dengan menekankan prinsip-prinsip demokratis dan pengendalian oleh pekerja (Edgley, 2015).

Alhasil, pandangan kritis Chomsky terhadap anarkisme mencerminkan upayanya untuk menggabungkan nilai-nilai tradisional dengan konteks modern. Kritiknya menciptakan ruang untuk refleksi dan pembaruan, sekaligus mempertahankan semangat esensial anarkisme. Sebagai seorang intelektual yang terlibat aktif dalam sejarah gerakan radikal, pandangan Chomsky menjadi sorotan kritis terhadap dinamika anarkisme dalam menghadapi kompleksitas dunia kontemporer.

Baca Juga  Kemenkop Antusias Libatkan Pihak Swasta Dorong Digitalisasi UMKM

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *